Ringkasan Keagungan dalam Setiap Sudutnya
Masjid Agung Banten bukan hanya tempat ibadah, melainkan mahakarya arsitektur yang menyimpan sejarah panjang peradaban Islam Nusantara. Setiap bagiannya memiliki karakter dan cerita tersendiri.
Ruang utama seluas 25 x 19 meter dilengkapi lantai hijau muda dari ubin teraso dan dinding yang membatasi ruang sakral dengan dunia luar. Di dinding timur, empat pintu kayu dengan ornamen lengkung menjadi gerbang utama. Suasana tenang siap menampung kekhusyukan jamaah.
Langit-langit disangga oleh 24 tiang kayu jati, dengan empat tiang utama setinggi 11 meter. Keunikan terletak pada umpaknya—landasan batu andesit berbentuk buah labu yang dihiasi ukiran pucuk daun yang tumpang tindih.
Mihrab berada di sisi barat, berdiri di atas pondasi lebih tinggi, dengan dinding tanpa jendela untuk suasana kontemplatif. Di dekatnya, mimbar kayu megah dihiasi ukiran rumit seperti motif teratai, bingkai cermin, dan tulisan Arab yang mengingatkan khutbah masa lalu.
Ruang pawestren terhubung ke ruang utama melalui pintu di dinding utara, dengan lubang angin segitiga yang unik. Salah satu pintunya mengarah ke serambi pemakaman selatan.
Di utara masjid, kompleks pemakaman terintegrasi dengan bangunan utama. Di sinilah para sultan dan permaisuri Kesultanan Banten, seperti Maulana Hasanuddin dan Sultan-sultan yang lainnya, dimakamkan. Makam dengan jirat batu dan nisan menciptakan aura hormat dan sakral.
Atap tumpang lima setinggi 30 meter membentuk siluet khas masjid. Berbentuk bujur sangkar yang mengecil ke atas, dengan rangka kayu yang menampilkan pengaruh arsitektur Hindu-Jawa. Puncaknya dihiasi memolo dari tanah liat setinggi 1,2 meter.
Keempat sisi masjid dikelilingi serambi terbuka. Serambi timur, dengan 12 tiang kayu jati segi delapan, adalah pintu masuk utama. Lantai tegel merahnya lebih rendah dari ruang utama, menciptakan transisi ruang yang terasa.
Di serambi barat, bedug kayu jati besar dengan kulit kerbau siap membangunkan sahur atau menandai waktu salat. Di halaman timur, kolam persegi panjang yang dibagi empat berfungsi untuk bersuci dan menyejukkan udara.
Di halaman timur, istiwa—penunjuk waktu berbasis sinar matahari berbentuk segi delapan—menunjukkan kecanggihan ilmu falak. Bangunan Tiyamah di selatan masjid, berfungsi sebagai tempat musyawarah dan diskusi keagamaan, mencerminkan aktivitas intelektual masa lalu.
Kini, keanggunan Masjid bermotif lokal yang telah menjadi Cagar Budaya Tingkat Kota Serang menjadi ikon Provinsi Banten.