Istana Peralihan di Tengah Pusaran Kekuasaan
Keraton Kaibon adalah runtuhan bangunan yang dikaitkan dengan fungsi pemerintahan pada awal abad XIX, terletak di tepi Sungai Ci Banten, Kelurahan Kasunyatan, Kasemen, pada koordinat 106° 09′ 35.4″ BT dan 06° 02′ 35.7″ LS. Saat ini, situs seluas 20.790 m² ini berfungsi sebagai situs pendidikan, budaya, dan pariwisata yang bersifat profan.
Lokasi dan Arsitektur
Keraton ini dibangun di zona rawa dengan ketinggian 5 – 6 meter di atas permukaan laut, menghadap ke barat. Tata ruangnya mencerminkan hierarki sosial Jawa:
- Jaba (Halaman Publik): Dibatasi pagar bata setinggi 1.75 – 1.80 m dengan lima gapura berbentuk candi bentar setinggi 5.5 – 6 meter. Terdapat fondasi bekas masjid dengan lantai ubin terracotta.
- Jaba Tengah (Ruang Antara): Terdapat gapura kurung setinggi 5.64 m yang telah dipugar.
- Dalem (Kediaman Privat): Gapura setinggi 5.42 m menjadi pintu masuk ke area pribadi sultan dan keluarga, dengan struktur utama berbentuk persegi panjang kompleks dan dinding tersisa setinggi 60 – 170 cm.
Sejarah Kelam
Keraton Kaibon dibangun sebagai pengganti setelah Keraton Surasowan dihancurkan pada tahun 1808 atas perintah Gubernur Jenderal Belanda Herman Willem Daendels. Menurut beberapa sumber tertulis, Keraton Kaibon dibangun pada akhir masa pemerintahan kesultanan antara 1809 dan 1811.
Konteks pembangunannya terkait dengan pemberhentian Sultan Aliyuddin (1803-1808), yang disebut Heekeren (1856) sebagai sultan terakhir yang memerintah saat Daendels bertugas. Salah satu pemicunya adalah pembunuhan utusan Daendels, Du Puy, di dalam Keraton Surasowan (Kielstra, 1916).
Setelah Batavia jatuh ke Inggris (1811), Thomas Stamford Raffles mengangkat Sultan Muhammad Syafiuddin (1809-1815). Berdasarkan sumber sejarah tersebut, diketahui bahwa periode penggunaan Keraton Kaibon berlangsung antara tahun 1809 hingga 1832. Istana ini pernah didiami oleh Sultan Syafiuddin dan putranya, Muhammad Rafiuddin, yang diasingkan ke Surabaya pada tahun 1832 hingga wafatnya tahun 1900 karena dianggap mendukung pemberontakan (Kielstra, 1916; Groenhof, 1920).
Warisan dan Status
Oleh karena pada masa itu Banten sudah masuk ke dalam sistem pemerintahan interregnum Inggris dan kembali di bawah pemerintahan Belanda, maka Keraton Kaibon dapat dimasukkan ke dalam periode kolonial. Ia menjadi simbol transisi tragis dari kedaulatan menuju pemerintahan boneka.
Kini runtuhan bata yang tersisa menyimpan kisah tentang resistensi, adaptasi, dan kepasrahan kesultanan di ujung zaman di cagar budaya tingkat Kota Serang.***