Gerbang dan “Pintu Pajak” di Atas Kanal Banten Lama
Tidak jauh dari keriuhan Alun-alun dan kemegahan Masjid Agung Banten Lama, tersembunyi sebuah saksi sejarah yang kini sunyi. Di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, atau tepatnya pada koordinat 106° 09’ 18,1” BT dan 06° 02’ 07,4” LS, berdiri sisa-sisa Jembatan Rante. Ia dikelilingi pemukiman di utara, jalan menuju masjid dan alun-alun di selatan, serta kanal yang mengapitnya di timur dan barat.
Jembatan ini didirikan di atas kanal kota Banten Lama, sekitar 300 meter di sebelah utara Keraton Surosowan. Posisinya sangat strategis. Dahulu, ia adalah penghubung vital antara jalan dari luar kota di sebelah utara dengan jantung pusat kota Banten. Kini, yang tersisa hanya dua bagian sisinya, memberi isyarat tentang bentuk masa lalunya yang diduga mirip dengan Jembatan Kota Intan di Jakarta.
Lebih dari sekadar jembatan biasa, Jembatan Rante adalah sebuah karya rekayasa yang cerdas. Dibangun dari bata dan karang, jembatan ini diduga menggunakan tiang besi dan papan untuk bagian penyeberangannya. Keunikannya terletak pada mekanisme “kerekan rantai”. Karena kanal di bawahnya juga berfungsi sebagai jalur lalu lintas kapal dan perahu, jembatan ini dapat dinaik-turunkan. Saat ada kapal yang akan melintas, jembatan dibuka. Saat tidak ada, jembatan ditutup dan berfungsi penuh sebagai sarana penyeberangan bagi pejalan kaki dan kendaraan darat. Saat ini, sisa bangunannya memiliki luas sekitar 160,56 m².
Kapan tepatnya jembatan canggih ini dibangun? Catatan tahunnya masih belum pasti. Namun, keberadaannya telah tercatat sangat awal. Cornelis de Houtman, yang tiba di Banten pada tahun 1596, telah menggambarkan kota Banten beserta jembatan rantai ini dalam lukisannya. Hal ini menunjukkan betapa tua dan pentingnya struktur ini.
Fungsinya pun melampaui sekadar penghubung dan penyeberang. Dalam Babad Banten disebutkan bahwa pada tahun 1570, Maulana Yusuf telah membangun fasilitas kota dengan segala macam kebutuhan untuk perdagangan. Ia membangun ‘pintu pajak’ bagi setiap kapal asing pengangkut barang dagangan yang masuk. Jembatan Rante inilah yang diduga kuat berfungsi sebagai “tol perpajakan” tersebut. Setiap kapal kecil atau perahu pengangkut barang dagangan asing yang akan memasuki kota kerajaan, harus melalui dan membayar pajak di titik ini.
Dengan demikian, Jembatan Rante bukan hanya artefak batu dan besi yang bisu. Ia adalah simbol dari kebijakan ekonomi dan pertahanan Kesultanan Banten. Ia adalah gerbang kota yang bisa membuka untuk kemakmuran perdagangan, sekaligus menutup untuk mengontrol dan memungut pajak. Rantai-rantainya yang telah lama hilang itu dulu bukan hanya mengangkat jembatan, tetapi juga mengatur denyut niaga sebuah kerajaan maritim yang besar. Kini, di tepi kanal yang tenang, sisa-sisanya mengajak kita membayangkan sebuah masa ketika Banten adalah pusat dunia yang sibuk, dan jembatan ini adalah pintu masuknya.***