Simbol Kejayaan yang Tersisa dalam Reruntuhan
Di pusat kota tua Banten, berdiri sebuah saksi bisu yang menyimpan napas panjang sejarah: Keraton Surasowan. Pada zamannya, ia bukan sekadar tempat tinggal sultan, melainkan jantung politik, budaya, dan kekuasaan Kesultanan Banten. Namun, kini yang tersisa hanyalah fondasi, reruntuhan tembok, dan kolam yang sunyi—sebuah lanskap yang bercerita tentang kejayaan, konflik, dan akhirnya, keruntuhan.
Sebuah Istana yang Berubah Wajah: Dari Terbuka ke Benteng Kokoh
Awalnya, Keraton Surasowan dibangun tanpa tembok yang mengurung. Ia berdiri terbuka, mungkin mencerminkan kedekatan awal penguasa dengan rakyatnya. Namun, dinamika politik dan ancaman militer mengubah segalanya.
Pada tahun 1683, keraton akhirnya dikelilingi oleh benteng yang sangat kokoh, terbuat dari susunan bata dan karang. Orang Belanda menyebutnya Fort Diamant atau “Benteng Intan”—sebuah nama yang merujuk pada denahnya yang menyerupai bentuk berlian (Ambary dkk, 1988: 35; Michrob, 1993: 311). Saat ini, di dalam benteng tersebut, bangunan keraton sudah tidak utuh lagi. Yang tersisa hanyalah fondasi, tembok, dan struktur bangunan yang memberi petunjuk tentang tata letaknya.
Benteng ini luar biasa besarnya: berbentuk empat persegi panjang dengan panjang 312.14 m, lebar 145.76 m, dan tinggi 4,5 meter, mencakup area seluas 3 hektar. Setiap sudutnya dilengkapi bastion (kubu pertahanan) berbentuk belah ketupat yang meruncing ke luar. Pada dinding utara dan selatan, terdapat tonjolan setengah lingkaran (halre maan), sementara akses utama hanya melalui dua gerbang besar: satu di utara dan satu lagi di timur.
Dinding yang Dibangun untuk Bertahan: Sebuah Rekayasa Canggih
Kekokohan Fort Diamant terletak pada konstruksi dindingnya yang sangat tebal—mencapai 7,25 meter—dan terdiri dari beberapa lapisan (Ambary, 1988: 33):
- Lapisan pertama (dari dalam): Dinding bata dengan perekat tanah liat, bubuk bata, pasir, dan bubuk karang (tebal ~67 cm).
- Lapisan kedua: Tanah isian yang dicampur bongkahan karang dan pecahan bata (tebal ~4,73 m).
- Lapisan ketiga: Lagi-lagi susunan bata dengan perekat tanah liat (tebal ~1,30 m).
- Lapisan keempat (luar): Batu karang berbentuk persegi yang disusun rapi dan direkatkan dengan campuran pasir, bubuk bata, dan bubuk karang (tebal ~30 cm).
Perubahan dari tembok keliling biasa menjadi benteng pertahanan bergaya Eropa ini tidak terjadi begitu saja. Perubahan fungsi terjadi menjelang dan sesudah perang saudara antara 1680-1683 dengan bantuan seorang arsitek Belanda bernama Hendrik Lukaszoon Cardeel (Nurhadi, 1982; Ambary dkk, 1988: 35).
Kehidupan di Balik Tembok yang Kini Sunyi
Di dalam benteng yang megah itu, kehidupan istana pernah berdenyut. Di dalam Fort Diamant terdapat Keraton yang terdiri dari: Rara Denok, Pancuran Mas, Kediaman Sultan, Srimanganti (lobby), tempat para pengawal dan rumah para abdi dalem.
Di luar dinding utara, reruntuhan Srimanganti masih bisa dilihat. Bangunan inilah yang berfungsi sebagai tempat para tamu menanti kesempatan bertemu Sultan.
Salah satu peninggalan yang masih bisa dirasakan ketenangannya adalah Kolam Rara Denok. Kolam persegi panjang berukuran 30 x 14 meter dengan kedalaman 4,5 meter ini adalah bagian dari taman sari keraton. Di tengahnya, terdapat struktur yang diperkirakan merupakan bale kambang, sebuah tempat peristirahatan di atas air. Untuk memenuhi kebutuhan air keraton yang besar, dibangun sistem canggih yang mengalirkan air dari Tasik Ardi melalui proses penjernihan atau pengindelan. Sebelum sistem ini ada, dua sumur di dinding barat benteng menjadi sumber air bersih.
Tiga Babak Sejarah: Pendirian, Kehancuran, dan Kepiluan
Periode I (Abad ke-16): Masa Keemasan Awal
Keraton Surasowan didirikan oleh Sultan pertama Banten, Maulana Hasanuddin (1552-1570), dan diperluas oleh penerusnya, Maulana Yusuf (1570-1580). Pada masa ini, fungsi utamanya adalah sebagai tempat kediaman raja dan pusat pemerintahan. Tembok kota dari bata dan karang juga dibangun untuk melindungi elit kesultanan.
Periode II (Abad ke-17 & 18): Konflik dan Pembangunan Kembali
Era kejayaan di bawah Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672) berakhir dengan kehancuran keraton akibat peperangan. Putranya, Sultan Haji (1672-1678), membangunnya kembali di atas puing-puing yang sama. Inilah periode di mana Fort Diamant dibangun dengan bantuan arsitek Belanda, Hendrik Lucaszoon Cardeel (1680-1681), menandai campur tangan asing dan perubahan arsitektur yang drastis.
Periode III (Abad ke-19): Akhir yang Tragis
Babak akhir keraton ini sangat memilukan. Pada tahun 1808, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memerintahkan penghancuran Keraton Surasowan. Pada 1813, keraton sepenuhnya ditinggalkan penghuninya (Michrob, 1993: 312). Penghancuran sistematis berlangsung hingga tahun 1832. Sebagian material bangunannya diambil untuk membangun bangunan Belanda lainnya di Kota Serang (Ambary, 1980; Djajadiningrat, 1983; Guillot, 1990). Tindakan ini bukan hanya penghancuran fisik, melainkan pemutus mata rantai simbolik kekuasaan pribumi.
Kini, senyap menyelimuti situs Keraton Surasowan. Setiap bata yang terkelupas, setiap sudut bastion yang masih berdiri, dan setiap riak air di Kolam Rara Denok, adalah pengingat tentang sebuah kekuasaan yang pernah jaya, bertahan melalui konflik, dan akhirnya dikikis oleh waktu dan kekuatan politik baru. Ia berdiri bukan sebagai bangunan yang megah, melainkan sebagai monumen untuk refleksi: bahwa bahkan benteng sekuat intan pun bisa retak, tetapi jejak sejarahnya akan selalu abadi, menunggu untuk dibaca oleh generasi yang ingin mendengarkan bisikannya.***



