KATALOG CB - ODCB
Provinsi Banten

KERATON KAIBON

Istana Peralihan di Tengah Pusaran Kekuasaan

Di tepi Sungai Ci Banten yang tenang, dikelilingi oleh kanal buatan, berdiri sisa-sisa keagungan yang penuh lara: Keraton Kaibon. Dengan Nomor Inventaris 003.01.07.03.08, situs ini kini dikategorikan sebagai runtuhan bangunan yang dikaitkan dengan fungsi pemerintahan pada awal abad XIX. Saat ini, di bawah perlindungan Kementerian Kebudayaan, Keraton Kaibon berfungsi sebagai situs pendidikan, budaya, dan pariwisata yang bersifat profan.

Lokasi dan Arsitektur yang Bersahaja

Tepat pada koordinat 106° 09′ 35.4″ BT dan 06° 02′ 35.7″ LS, di Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Keraton Kaibon menghadap ke barat. Ia terletak di zona rawa belakang Ci Banten yang selalu basah, dengan ketinggian hanya 5 – 6 meter di atas permukaan laut. Situs seluas 20.790 m² ini berbentuk persegi empat (125 m x 85 m), namun struktur yang tersisa membentuk area segitiga.

Kompleks keraton ini dirancang dengan tata ruang bertingkat yang ketat, mencerminkan hierarki sosial Jawa:

  1. Jaba (Halaman Publik): Dibatasi pagar bata setinggi 1.75 – 1.80 m dengan lima gapura berbentuk candi bentar (tanpa atap) setinggi 5.5 – 6 meter. Di halaman ini, terdapat fondasi bekas masjid dengan lantai ubin terracotta, menandai ruang ibadah bagi publik.
  2. Jaba Tengah (Ruang Antara): Menghubungkan area publik dan privat. Di sini berdiri gapura kurung (bergapura beratap) setinggi 5.64 m, yang telah mengalami pemugaran.
  3. Dalem (Kediaman Privat Sultan & Keluarga): Seperti disebutkan dalam tradisi keraton Jawa dan catatan Stavorinus (1793) tentang Keraton Surasowan, bagian ini adalah ruang paling pribadi. Gapura ketiga setinggi 5.42 m menjadi pintu masuknya. Di bagian paling timur, terdapat struktur utama dengan denah persegi panjang yang kompleks, menunjukkan petak-petak ruangan, teras, dan kemungkinan lantai kayu di atas fondasi bata. Ruang-ruang ini ada yang berlantai bata dan ada yang berlantai tanah, dengan dinding tersisa setinggi 60 – 170 cm.

Sejarah Kelam: Istana Pengganti di Tengah Invasi

Keraton Kaibon lahir dari abu kehancuran. Menurut beberapa sumber tertulis, Keraton Kaibon dibangun pada akhir masa pemerintahan kesultanan antara 1809 dan 1811. Ia adalah alternatif setelah Keraton Surasowan dihancurkan pada tahun 1808 atas perintah Gubernur Jenderal Belanda, Herman Willem Daendels.

Konteks sejarahnya tragis. Kekosongan istana melemahkan kedaulatan kesultanan, bertepatan dengan pemberhentian Sultan Aliyuddin (1803-1808). Heekeren (1856) menyebut Aliyuddin sebagai sultan terakhir yang memerintah saat Daendels bertugas. Salah satu pemicu keruntuhannya adalah pembunuhan utusan Daendels, Du Puy, di dalam Keraton Surasowan (Kielstra, 1916).

Setelah kejatuhan Batavia ke tangan Inggris tahun 1811, Banten berada di bawah pemerintahan Thomas Stamford Raffles. Raffles mengangkat Sultan Muhammad Syafiuddin (1809-1815) sebagai penguasa, yang kemudian digantikan oleh putranya yang masih kecil, Muhammad Rafiuddin, di bawah perwalian ibunya, Ratu Asyiah.

Berdasarkan sumber sejarah tersebut, diketahui bahwa periode penggunaan Keraton Kaibon berlangsung antara tahun 1809 hingga 1832. Istana ini pernah didiami oleh Sultan Syafiuddin dan Sultan Rafiuddin. Namun, nasib kerajaan berakhir pahit. Sultan terakhir, Muhammad Rafiuddin, diasingkan ke Surabaya pada tahun 1832 hingga wafatnya tahun 1900 karena dianggap mendukung pemberontakan (Kielstra, 1916; Groenhof, 1920).

Warisan yang Tersisa

Oleh karena pada masa itu Banten sudah masuk ke dalam sistem pemerintahan interregnum Inggris dan kembali di bawah pemerintahan Belanda, maka Keraton Kaibon dapat dimasukkan ke dalam periode kolonial. Ia adalah simbol transisi tragis dari kedaulatan penuh menuju kepemerintahan boneka di bawah kuasa asing.

Kini, meski belum ditetapkan secara resmi sebagai cagar budaya, Keraton Kaibon telah terdaftar dalam register nasional. Ia bukan lagi istana yang megah, melainkan sebuah lanskap batu bata yang bisu, menyimpan kisah tentang resistensi, adaptasi, dan akhirnya, kepasrahan sebuah kesultanan di ujung zaman. Setiap gapura yang masih berdiri adalah pintu untuk membayangkan suasana genting awal abad ke-19, ketika istana ini menjadi sandaran terakhir martabat kerajaan yang tengah digerus sejarah.***

  • Peta Lokasi

  • Detail

Kabupaten/Kota : Kota Serang
Jenis : Situs
Nomor Inventaris : 003.01.07.03.08
Penanggung Jawab : Balai Pelestarian Kebudayaan Wil.VIII
Nomor SK Penetapan : -

Alamat/Lokasi

Kampung/Link : Kampung Kroya
Desa/Kelurahan : Kelurahan Kasunyatan
Kecamatan: Kecamatan Kasemen
  • Foto Terkait

  • Video Terkait

  • Dokumen SK Penetapan

Scroll to Top