Di halaman timur Masjid Agung Banten, sekitar sepuluh langkah dari kolamnya, berdiri sebuah menara anggun setinggi 23 meter. Berbalut warna putih yang tenang, ia telah menyaksikan perjalanan waktu sejak abad ke-18. Untuk mencapai puncaknya, petualang bisa menapaki 82 anak tangga yang tersembunyi di dalamnya, melewati empat pintu dengan desain yang serupa.
Menara ini bagaikan tubuh yang utuh, terdiri dari kaki, tubuh, dan kepala, masing-masing bercerita. Menara ini diperkirakan dibangun pada abad ke-17 M dan hingga kini masih dapat dimasuki sampai ke bagian atas melalui 82 anak tangga yang berputar di bagian dalam. Beberapa pelancong dari Eropa, mencatat keberadaan Menara ini, bahkan secara tradisonal Menara dibangun oleh seorang Mongol beragama Islam Bernama Cek Ban Cut (Guillot, 2008).
Kaki yang Kokoh
Kakinya adalah alas berbentuk segi delapan yang bertingkat dua. Lapisan pertama, setinggi 33 cm, membentang lebar dengan sisi sepanjang 5,92 meter. Di atasnya, lapisan kedua setinggi 27 cm menyangga tubuh menara dengan sisi yang lebih ramping, 3,83 meter. Permukaannya yang dilapisi plesteran semen memberi kesan sederhana namun kokoh, bak fondasi yang tak tergoyahkan.
Tubuh yang Terhias
Badan menara menjulang dengan bentuk segi delapan yang perlahan menyempit ke atas. Di sisi utara, pintu setinggi 188 cm mengajak kita masuk. Daun pintu besinya yang kokoh diapit lengkungan indah, dihiasi panel segi empat di tengahnya. Tangga pendek dengan empat anak tangga menyambut di depan pintu. Keunikan tubuh menara terpancar dari ornamennya. Tiga tiang segi delapan mengapit pintu. Di setiap sisinya, hiasan persegi panjang berjajar rapi bagaikan sulaman pada kain—empat ke samping dan tiga ke bawah. Di antaranya, bentuk bujur sangkar tersusun dalam pola teratur. Melingkari badan menara, deretan hiasan tumpal, lubang-lubang spiral yang menawan, dan pelipit akhir, seolah menari dari bawah ke atas.
Mahkota Dua Tingkat
Di puncaknya, menara ini mengenakan mahkota dua tingkat. Tingkat pertama berupa kubah dengan teras segi delapan yang dikelilingi pagar besi. Sebuah pintu menghubungkan interior dengan teras ini. Di atasnya, kubah kedua yang lebih kecil dan berbentuk bundar menambah kesan anggun. Pada sisi selatan kubah ini terdapat pintu kecil, sementara ceruk-ceruk menghiasi sisi baratnya.
Puncak segalanya dimahkotai oleh memolo dari tembikar merah hati, berbentuk bunga mekar bersusun dua. Di atasnya, penangkal petir berdiri sebagai penjaga modern yang mengawasi langit.
Ekor Kisah dari Negeri Jauh
Keanggunan menara ini mengundang decak kagum dan tanya. Sejarawan seperti Pijper menangkap kemiripannya dengan bentuk mercusuar, khususnya mercusuar khas Belanda. Jejak arsitektur ini masih bisa ditemui di mercusuar peninggalan Belanda abad ke-19 di Anyer, Serang. Ciri-ciri seperti bentuk segi delapan, pintu atas lengkung, tangga spiral di dalam, dan kepala menara bertingkat, memang lazim di Negeri Kincir Angin.
Inilah yang melahirkan simpulan bahwa menara ini, beserta tiang-tiang penyangga masjid yang juga segi delapan, menyimpan percikan pengaruh arsitektur Belanda—sebuah dialog budaya yang terpahat dalam batu & waktu.***