Bendung Lama Pamarayan: Saksi Bisu Peradaban Air di Banten
Bendung Lama Pamarayan membentang di Sungai Ciujung, berada di perbatasan Kecamatan Pamarayan dan Desa Panyabrangan, Kabupaten Serang. Hingga 1997, bendung gerak ini berfungsi sebagai pengendali banjir dan penyangga irigasi. Dengan panjang hampir 192 meter dan tinggi 16 meter, strukturnya megah dan sarat sejarah.
Bendung terdiri dari sub-struktur (kini tertimbun sedimentasi) dan super-struktur yang masih terlihat:
- Tubuh Bendung: Struktur beton bertulang sepanjang 130 meter dengan sepuluh pintu air besi (delapan masih terlihat). Di atasnya terdapat atap datar untuk inspeksi dan katrol.
- Pintu Pengambilan: Terletak di kedua ujung hulu, saluran ini mengarahkan air ke irigasi. Kondisinya kini memprihatinkan.
- Menara dan Bangunan Kontrol: Di sisi timur ada menara persegi yang awalnya dermaga (Thiele, 1921: 406). Di barat, bangunan kontrol dengan dua menara, dilengkapi ruang mesin dan gudang. Arsitekturnya unik, dengan ventilasi cusped openings dan dinding batu andesit 4 meter (BPCB Banten, 2017:73–74).
- Jalur Lori: Rel selebar 168,6 cm menunjukkan kecanggihan sistem perawatan masa lalu.
Jaringan irigasi di Serang telah ada sejak Kesultanan Banten, tetapi kebutuhan sistem modern mendesak di era Hindia Belanda. Keluhan tentang banjir di Cikande Udik pada Desember 1893 menjadi pemicu (Felix, 1921:188). Diskusi antara calon Bupati Serang Achmad Djajadiningrat dan Residen Banten menyoroti ketergantungan pertanian pada air (Djajadiningrat, 1936:246–247).
Pada 1896, insinyur van Marle merancang sistem irigasi dari Sungai Ciujung (Felix, 1921:188). Gagasan ini diwujudkan melalui Surat Pemerintah No. 11 dan 13 (1905), memutuskan pembangunan bendung di Pamarayan karena tidak mengganggu jalur kereta api (von Esson, 1913:185).
Proyek senilai f. 3.925.000 untuk mengairi 31.450 bahu lahan direncanakan selesai dalam 8 tahun (van Sandick, 1904:736; BOW, 1906:142). Namun, pembangunan terhambat oleh kekurangan pekerja, banjir, dan kondisi sungai (BOW, 1910:242). Pemerintah menyediakan akomodasi gratis dengan kereta api untuk menarik pekerja (De Indische mercuur, 07-06-1910).
Tantangan teknis diatasi dengan membangun di tempat kering setelah membendung dan mengalihkan aliran Ciujung (BOW, 1913:26). Desain diubah oleh insinyur A.A. Meyers dari bendung tetap menjadi bendung gerak dengan pintu besi yang dapat diatur (Felix, 1921:192). Pintu besi dibuat di Ipswich, Inggris, oleh Risomes dan Rapher Ltd pada 1914.
Perang Dunia I dan jebolnya tanggul sementara memperlambat proyek. Bendung akhirnya selesai pada April 1919 dengan biaya melonjak menjadi f. 1.260.000 (Felix, 1921:192-194).
Sebagai bendung gerak terbesar pertama di Hindia Belanda, kinerjanya rumit: butuh 20 orang dan 3 jam untuk mengoperasikan pintu. Stasiun pengamat banjir dibangun di hulu untuk peringatan dini (de Vos, 1921:539–540).
Sejak 1925, lahan tidak produktif di Banten Utara berubah menjadi sawah irigasi. Arsitekturnya dianggap seperti “kuil” (van Iterson, 1925:9; De Telegraaf, 28-11-1924). Bendung ini dijuluki “terbesar di Indonesia” sebelum digantikan oleh Jatiluhur (Ali dkk., 2012:18).
Pada September 1951, Presiden Soekarno berkunjung dan berpidato di pelatarannya, menyerukan semangat kerja rakyat Banten (de Preangerbode, 06-09-1951). Bendung berhenti beroperasi pada 1997 karena usia, kerusakan, pendangkalan, dan penurunan debit air. Fungsinya dialihkan ke Bendung Baru Pamarayan (1994-1997).
Kini, Bendung Lama Pamarayan telah menjadi cagar budaya Tingkat Nasional, tetap akan menjadi monumen bisu yang bercerita tentang teknologi, ketekunan, dan visi besar untuk kesejahteraan rakyat Banten.***




