BENTENG SPELWIJK

Benteng VOC yang Menyaksikan Pergeseran Kekuasaan di Teluk Banten

Di tepi Teluk Banten, berdiri dengan gagah sebuah benteng yang menjadi saksi bisu pergolakan politik dan peralihan kekuasaan: Fort Speelwijk. Dengan luas kurang lebih 3 hektar, benteng persegi empat tidak beraturan ini dikelilingi oleh kanal yang berfungsi ganda sebagai jalur transportasi air dan sistem pertahanan. Dindingnya yang kokoh setinggi 3 meter, terbuat dari campuran bata, batu karang, pasir, dan kapur, seolah bercerita tentang ketegangan masa lalu.

Arsitektur Pertahanan yang Canggih

Setiap sudut Fort Speelwijk dirancang untuk perang. Benteng ini dilengkapi 4 bastion di setiap sudutnya, namun dengan bentuk dan denah yang berbeda-beda, menunjukkan penyesuaian dengan medan dan strategi. Dua bastion di sisi tenggara dan timur laut berbentuk diamond (berlian), dengan bastion tenggara berukuran lebih besar. Sementara bastion barat daya lebih sederhana, dan bastion barat laut justru berdimensi besar.

Pada bastion barat laut dan timur laut, terdapat pillbox atau pos pengintai berbentuk pil kapsul. Pada bagian bawah gardu intai (pillbox) terdapat ruangan (kilder) yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan senjata dan gudang mesiu. Di setiap sudut bangunan, terdapat ruangan kecil yang menjorok ke atas, dilengkapi menara jaga untuk penempatan meriam.

Gerbang utama di sisi utara menghadap ke laut—yang kini telah berubah menjadi tambak ikan akibat pendangkalan—memiliki dua pintu masuk berbentuk pelengkung setinggi + 2,5 m. Di dalam benteng, terdapat jaringan lorong-lorong perlindungan dan ruang-ruangan dari dinding bata, termasuk ruang kerja, ruangan dengan lorong dalam bastion, serta ruang penjara sementara.

Benteng ini dikelilingi parit selebar 10 meter, dan di sisi baratnya terdapat bekas dermaga yang menghubungkannya dengan Sungai Cibanten.

Kuburan Sejarah di Luar Tembok

Di luar benteng, terdapat Kerkhoff atau pemakaman Belanda. Makam-makam dari susunan bata berplester dan batu karang ini terbagi dalam dua jenis: jenis pertama berupa makam dengan batur tinggi yang di atasnya terdapat bentuk persegi dengan profil pelengkung di bagian atas, dan jenis kedua adalah makam berbentuk persegi sederhana dengan identitas almarhum tertera di permukaan batu.

Asal Usul: Hadiah dari Persekongkolan Politik

Fort Speelwijk dibangun oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) pada tahun 1682. Arsiteknya adalah seorang “tukang batu” kelahiran Batavia, Hendrick Lucaszoon Cardeel—nama yang juga terlibat dalam pembangunan benteng-benteng lain di Banten.

Nama “Speelwijk” sendiri adalah penghormatan kepada Gubernur Jenderal VOC Cornelis Jansz Speelman (1681-1684). Sosok tersebut dianggap telah berhasil menggerakkan seluruh elemen VOC untuk membantu pihak Sultan Haji dalam “perselisihan internal” di Kesultanan Banten dengan ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa.

Kehadiran benteng ini adalah buah dari perjanjian antara VOC dengan Sultan Haji (Sultan Abdul Kahar Abun Nazar) tahun 1682. Benteng ini tidak hanya menjadi penanda dari berakhirnya perselisihan internal ayah-anak antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji di tahun yang sama, tetapi juga awal dari menguatnya kehadiran VOC hingga pada akhirnya menjadi salah satu kekuatan di Teluk Banten. Bahkan, keberadaan Fort Speelwijk ini menandai tidak berfungsinya benteng kota Banten milik kesultanan.

Masa Suram dan Pemugaran

Benteng ini berfungsi sebagai Casteel VOC sampai pada tahun 1811. Belanda dikabarkan meninggalkan benteng ini pada 1811 karena wabah penyakit sampar melanda Banten.

Setelah ditinggalkan, Fort Speelwijk sempat terlantar sebelum akhirnya mendapat perhatian:

  1. 1911: Gubernur Jenderal Idenburg membentuk komisi untuk tinggalan purbakala di Banten Lama, terutama Fort Speelwijk.
  2. 1980/1981: Pemeliharaan pertama oleh Proyek Pelestarian/Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala.
  3. 1985-1986: Pemugaran benteng dan penataan lingkungan.
  4. 1988/1989 – 1992/1993: Pemugaran benteng lebih lanjut.
  5. Sejak selesai pemugaran hingga saat ini (2024): Pemeliharaan dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII.
  6. 2019: Revitalisasi lingkungan situs oleh Pemerintah Provinsi Banten.
  7. 2023: Konservasi dinding benteng terbaru.
  8. 2035: Konservasi bagian tengah oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII

Fort Speelwijk kini berdiri tidak hanya sebagai monumen arsitektur militer, tetapi sebagai simbol pergulatan kekuasaan. Ia adalah hadiah VOC kepada Sultan Haji sekaligus tanda awal dominasi asing atas Banten. Setiap bata, setiap bastion, dan setiap meriam yang pernah ada di sini bercerita tentang persekongkolan, perang saudara, dan akhirnya, penjajahan yang tersistem. Di depan benteng ini, Teluk Banten yang dahulu ramai oleh kapal dagang kini menjadi tambak yang tenang, sementara benteng itu sendiri tetap berdiri sebagai pengingat tentang bagaimana kekuasaan bisa berpindah tangan melalui perjanjian dan senjata.

  • Peta Lokasi

  • Detail

Kabupaten/Kota : Kota Serang
Kategori : Cagar Budaya
Periode : Islam
Jenis : Situs
Nomor Inventaris : 004.01.07.03.08
Penanggung Jawab : Balai Pelestarian Kebudayaan Wil. VIII
Nomor SK Penetapan : 234 Tahun 2024

Alamat/Lokasi

Kampung/Link : Jalan Ki Mas Jong No.15
Desa/Kelurahan : Kelurahan Kotabaru
Kecamatan: Serang
  • Foto Terkait

  • Video Terkait

  • Dokumen SK Penetapan

BENTENG SPELWIJK

Benteng VOC yang Menyaksikan Pergeseran Kekuasaan di Teluk Banten

Di tepi Teluk Banten, berdiri dengan gagah sebuah benteng yang menjadi saksi bisu pergolakan politik dan peralihan kekuasaan: Fort Speelwijk. Dengan luas kurang lebih 3 hektar, benteng persegi empat tidak beraturan ini dikelilingi oleh kanal yang berfungsi ganda sebagai jalur transportasi air dan sistem pertahanan. Dindingnya yang kokoh setinggi 3 meter, terbuat dari campuran bata, batu karang, pasir, dan kapur, seolah bercerita tentang ketegangan masa lalu.

Arsitektur Pertahanan yang Canggih

Setiap sudut Fort Speelwijk dirancang untuk perang. Benteng ini dilengkapi 4 bastion di setiap sudutnya, namun dengan bentuk dan denah yang berbeda-beda, menunjukkan penyesuaian dengan medan dan strategi. Dua bastion di sisi tenggara dan timur laut berbentuk diamond (berlian), dengan bastion tenggara berukuran lebih besar. Sementara bastion barat daya lebih sederhana, dan bastion barat laut justru berdimensi besar.

Pada bastion barat laut dan timur laut, terdapat pillbox atau pos pengintai berbentuk pil kapsul. Pada bagian bawah gardu intai (pillbox) terdapat ruangan (kilder) yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan senjata dan gudang mesiu. Di setiap sudut bangunan, terdapat ruangan kecil yang menjorok ke atas, dilengkapi menara jaga untuk penempatan meriam.

Gerbang utama di sisi utara menghadap ke laut—yang kini telah berubah menjadi tambak ikan akibat pendangkalan—memiliki dua pintu masuk berbentuk pelengkung setinggi + 2,5 m. Di dalam benteng, terdapat jaringan lorong-lorong perlindungan dan ruang-ruangan dari dinding bata, termasuk ruang kerja, ruangan dengan lorong dalam bastion, serta ruang penjara sementara.

Benteng ini dikelilingi parit selebar 10 meter, dan di sisi baratnya terdapat bekas dermaga yang menghubungkannya dengan Sungai Cibanten.

Kuburan Sejarah di Luar Tembok

Di luar benteng, terdapat Kerkhoff atau pemakaman Belanda. Makam-makam dari susunan bata berplester dan batu karang ini terbagi dalam dua jenis: jenis pertama berupa makam dengan batur tinggi yang di atasnya terdapat bentuk persegi dengan profil pelengkung di bagian atas, dan jenis kedua adalah makam berbentuk persegi sederhana dengan identitas almarhum tertera di permukaan batu.

Asal Usul: Hadiah dari Persekongkolan Politik

Fort Speelwijk dibangun oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) pada tahun 1682. Arsiteknya adalah seorang “tukang batu” kelahiran Batavia, Hendrick Lucaszoon Cardeel—nama yang juga terlibat dalam pembangunan benteng-benteng lain di Banten.

Nama “Speelwijk” sendiri adalah penghormatan kepada Gubernur Jenderal VOC Cornelis Jansz Speelman (1681-1684). Sosok tersebut dianggap telah berhasil menggerakkan seluruh elemen VOC untuk membantu pihak Sultan Haji dalam “perselisihan internal” di Kesultanan Banten dengan ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa.

Kehadiran benteng ini adalah buah dari perjanjian antara VOC dengan Sultan Haji (Sultan Abdul Kahar Abun Nazar) tahun 1682. Benteng ini tidak hanya menjadi penanda dari berakhirnya perselisihan internal ayah-anak antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji di tahun yang sama, tetapi juga awal dari menguatnya kehadiran VOC hingga pada akhirnya menjadi salah satu kekuatan di Teluk Banten. Bahkan, keberadaan Fort Speelwijk ini menandai tidak berfungsinya benteng kota Banten milik kesultanan.

Masa Suram dan Pemugaran

Benteng ini berfungsi sebagai Casteel VOC sampai pada tahun 1811. Belanda dikabarkan meninggalkan benteng ini pada 1811 karena wabah penyakit sampar melanda Banten.

Setelah ditinggalkan, Fort Speelwijk sempat terlantar sebelum akhirnya mendapat perhatian:

  1. 1911: Gubernur Jenderal Idenburg membentuk komisi untuk tinggalan purbakala di Banten Lama, terutama Fort Speelwijk.
  2. 1980/1981: Pemeliharaan pertama oleh Proyek Pelestarian/Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala.
  3. 1985-1986: Pemugaran benteng dan penataan lingkungan.
  4. 1988/1989 – 1992/1993: Pemugaran benteng lebih lanjut.
  5. Sejak selesai pemugaran hingga saat ini (2024): Pemeliharaan dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII.
  6. 2019: Revitalisasi lingkungan situs oleh Pemerintah Provinsi Banten.
  7. 2023: Konservasi dinding benteng terbaru.
  8. 2035: Konservasi bagian tengah oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII

Fort Speelwijk kini berdiri tidak hanya sebagai monumen arsitektur militer, tetapi sebagai simbol pergulatan kekuasaan. Ia adalah hadiah VOC kepada Sultan Haji sekaligus tanda awal dominasi asing atas Banten. Setiap bata, setiap bastion, dan setiap meriam yang pernah ada di sini bercerita tentang persekongkolan, perang saudara, dan akhirnya, penjajahan yang tersistem. Di depan benteng ini, Teluk Banten yang dahulu ramai oleh kapal dagang kini menjadi tambak yang tenang, sementara benteng itu sendiri tetap berdiri sebagai pengingat tentang bagaimana kekuasaan bisa berpindah tangan melalui perjanjian dan senjata.

  • Alamat & Peta Lokasi

Jalan Ki Mas Jong No.15
Kelurahan Kotabaru
Kecamatan Serang
  • Kategori

Utama : Cagar Budaya
Periode/Masa : Islam
Jenis : Situs
  • Detail

No. Inventaris : 004.01.07.03.08
No. SK : 234 Tahun 2024
Penanggung Jawab/Pemilik :
Balai Pelestarian Kebudayaan Wil. VIII
  • Foto Terkait

  • Video Terkait

  • Dokumen SK Penetapan

Kembali
Lanjut
/
Buka File PDF
Scroll to Top