Melacak Jejak Sejarah di Kerkhoff Pabean
Di sebuah sudut tenang di Kampung Pabean, Kelurahan Banten, Kota Serang, tersembunyi suatu potongan sejarah kolonial: kompleks makam Belanda yang dikenal dengan nama kerkhoff. Lokasinya terpancang pada koordinat 106° 09’ 05,48” Bujur Timur dan 06° 01’ 54,95” Lintang Selatan, menjadi saksi bisu dari sebuah era yang telah lama berlalu.
Asal kata kerkhoff sendiri berasal dari bahasa Belanda. Jika dipecah, kerk berarti gereja dan hoff adalah halaman. Ini mencerminkan tradisi masyarakat Belanda yang mayoritas Kristen pada masa itu, yang biasa menguburkan keluarga mereka di halaman samping gereja. Seiring waktu, istilah itu pun meluas maknanya, menjadi sebutan umum untuk kuburan atau permakaman.
Namun, ada keunikan di Banten. Berbeda dengan kebanyakan kerkhoff yang memang berada dekat gereja, makam-makam orang Eropa dari masa Kesultanan Banten justru ditemukan di dekat Benteng Speelwijk, menandai pusat aktivitas politik dan militer saat itu.
Di antara barisan nisan, salah satu yang paling mencolok adalah makam Komandan Hugo Pieter Faure (1717 – 1763), yang besar dan menarik perhatian. Ia bukan satu-satunya. Di sana juga terbaring Jacob Wits, seorang pegawai pajak dan pembelian (Kopman en Fiscaal Deserbezeting) yang wafat pada 9 Maret 1769. Ada pula Catharina Maria van Doorn (meninggal 8 Desember 1769), istri Letnan Jan van Doorn, serta Maria Susana Acher (meninggal 6 Juli 1743), istri Thomas Schipers yang juga berprofesi sebagai pegawai pajak.
Makam-makam tersebut seluruhnya dibangun dari batu, meski kini kondisinya beragam. Beberapa masih utuh, sementara sebagian lainnya sudah tidak lengkap di bagian atasnya. Jika diamati, setidaknya ada dua jenis bentuk makam di tempat ini.
- Jenis pertama adalah makam dengan batur (alas) yang tinggi, di atasnya terdapat bentuk persegi dengan profil melengkung di bagian puncaknya, memberi kesan kokoh dan agak monumental.
- Jenis kedua lebih sederhana, berbentuk persegi biasa. Identitas almarhum diukirkan dengan sederhana pada permukaan atas batu nisan.
Keberadaan Kerkhoff Pabean ini bukan sekadar kumpulan batu nisan. Ia adalah halaman cerita yang terpahat, sebuah kerkhoff yang menyimpan narasi tentang kehidupan, kematian, dan jejak orang-orang asing yang pernah berlabuh dan akhirnya beristirahat untuk selamanya di tanah Banten. Setiap nisan yang masih tegak atau yang telah tergerus waktu, bisik-bisiknya mengajak kita untuk menyelami lagi lembaran sejarah yang mungkin terlupakan.


